Pendiri KTNA, Medali Indonesia Swasembada Pangan Akankah Tinggal Kenangan?

HM Djuhiya pendiri kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) memperlihatkan medali dari FAO PBB. (foto:My)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA: Di era pemerintahan Soeharto, Indonesia sempat merasakan zaman keemasan produksi pangan yang melimpah, sehingga dapat mensuplai kebutuhan pangan dalam negeri  atau swasembada.

Bahkan keberhasilan Indonesia di saat swasembada pangan tersebut juga telah menorehkan penghargaan dari dunia, Di antaranya dari FAO, organisasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut memberikan  pengharagaan kepada Indonesia.

“Pengharagaan tersebut  karena Indonesia  telah  menyumbanngkan 100.150 ton gabah kering  ke Afrika, atau setara dengan 17 milyar di saat Dollar masih  Rp2.000,” ungkap HM Djuhiya  pendiri kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), Jum’at (23/9/2016) kepada Wartawan DETAKKaltim.Com di arena Rembuq KTNA yang digelar di Samarinda Convention Hall Kalimantan Timur.

Djuhiya, kakek berusia 87 tahun dengan 7 anak, 26 cucu dan 30 buyut adalah seorang mantan Polisi yang beralih menjadi pemerhati  petani,  lalu memperlihatkan  medali-medali yang pernah didapatnya dari pemerintah, termasuk medali dari PBB tersebut.

Berita terkait : Pemerintah Impor Pangan Matikan Petani, Sesepuh KTNA Kecewa

Seraya berkata, “Dulu Philipina dan Thailand yang impor ke kita, sekarang malah kita yang balik  impor,” keluh  Djuhiya tak habis pikir.

Meski demikian dengan kondisi pertanian saat ini, kakek Djuhiya tetap berharap kejayaan  Indonesia dalam pangan akan kembali dan tidak hanya  menjadi kenangan  belaka. (My).

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password