Erau Ditutup, “Demam” Belimbur Hingga ke Loa Duri

Menghindari siraman air saat ritual Belimbur digelar, seorang pengendara motor menggunakan jas hujan. (foto:Ade)

DETAKKaltim.Com, TENGGARONG : Kemeriahan festival Erau di Kota Tenggarong yang dimulai sejak (20/8/2016) lalu hari ini, Minggu (28/8/2016) berakhir.

Bagai mana tidak meriah, festival yang diadakan setiap tahun sejak beberapa tahun terakhir ini bukan hanya dikunjungi warga setempat namun juga dari luar kota. Bahkan hingga wisatawan dari luar negeripun ikut berdatangan untuk menyaksikan kemeriahannya.

Sejak pembukaan kemeriahan dan semaraknya telah dirasakan karena festival ini memang telah ditunggu-tunggu masyarakat Tenggarong, hingga pelaksanaanyapun terus mendapat perhatian warga. Dan yang tidak kalah ditunggu-tunggunya adalah acara penutupan yang seru, karena diwarnai acara yang disebut Belimbur (saling siram air) antar pengunjung maupun warga Tenggarong.

Warga yang rumahnya tidak jauh dari Sungai Mahakampun sengaja berada di pinggir jalan, untuk mengikuti acara Belimbur yang dimulai sejak Pukul 10:00 sampai sore sekitar Pukul 17:00 WITA.

Belimbur, sebuha tradisi pada pagelaran budaya Erau yang menandai berakhirnya acara tersebut. (foto:Ade)
Belimbur, sebuah tradisi pada Pagelaran Budaya Erau yang menandai berakhirnya acara tersebut. (foto:Ade)

“Demam” Belimbur bukan hanya melanda warga di pusat Kota Tenggarong. Dari pantauan Wartawan DETAKKaltim.Com, bahkan ritual ini menjalar hingga  ke Kecamatan Loa Janan Desa Loa Duri Ilir Tenggarong. Warga yang sengaja menunggu waktu penutupan Erau ini rela menunggu sebelum Pukul 10:00 WITA.

Warga nampak antusias dengan membawa alat seperti gayung, ember untuk mengambil air di bantaran Sungai Mahakam yang tak jauh dari tepi jalan besar.

Sasaran siraman ini pun bukan hanya dari kalangan warga sekitar saja, namun juga pengguna jalan yang kebetulan melintas menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.

Wahyu, salah seorang warga yang saat itu sedang mengikuti dan mengamankan jalannya acara Belimbur membenarkan, sasaran utama bukan hanya kalangan kerabat atau pun tetangga sekitar. Melainkan warga dari luarpun yang saat itu melintas menggunakan motor ikut disiram.

“Walaupun naik motor dan baju bagus kena siram. Ya mana bisa marah namanya juga tradisi udah dari dulu,” ungkapnya.

Korban siraman yang tak sengaja melintasi jalan tersebutpun sempat kesal karena basah kuyup. Bagai mana tidak, penyiram bukan hanya satu dua orang saja, melainkan puluhan warga yang ikut ramai-ramai menyiram.

Salah seorang “korban” Belimbur mengatakan sempat kesal namun menyadari ini adalah sebuah tradisi.

“Bagaimana mau jalan kalau di tengah jalan sudah dihadang, kesal sih tapi ya mau gimana lagi namanya juga tradisi,” ungkap si “korban” tanpa mau menyebutkan namanya.

Namun ternyata tidak semua warga yang ada di wilayah Belimbur boleh disiram. Mereka yang membawa anak kecil dan orang yang sudah lanjut usia yang memang khusus diberi jalan lewat tanpa disiram.

“Bagi yang naik motor sedang bonceng bawa anak kecil,  ya tidak kita siram melainkan hanya kita beri jalan dan disarankan agar pelan-pelan, karena jalan yang berair bisa mengakibatkan jalan licin,” tandas Wahyu.(Ade)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password