Tercatat di La Galigo, Tari Bissu Diambang Kepunahan

Penampilan Julaeha, Pabissu di malam Bugis International Night (BIN) menuai decak kaguman ribuan tamu dan undangan. (foto:SM)

Pabissu adalah gelaran dan panggilan bagi penari Bissu. Sebuah tarian yang unik dan hanya satu di dunia, yakni dimiliki oleh Pemda Kabupaten Pangkep. Tulisan ini menjelaskan sekilas aspek suka-duka Pabissu yang perlu mendapat perhatian terutama dari Pemda Daerah dan Provinsi Sulawesi Selatan. Tulisan ringkas ini, diadaptasi dari hasil pementasan Bugis International Night, Jumat Malam, 13 Mei 2016 dan wawancara dengan Julaeha, senior Bissu Pangkep pada jamuan makan siang di Grand Hyatt Jakarta, Sabtu, 14 Mei 2016.

Menurut pengakuan Julaeha kelahiran tahun 1976. Pabissu kini tinggal dihitung jari. Tidak lebih 10 orang yang kini tinggal di Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Di Kabupaten lain seperti Bone dan Soppeng juga masih ada. Kenyataan ini, bisa dikatakan Bissu sudah mendekati kepunahannya dan mendesak dibutuhkannya perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten dan Provinsi dan jika ingin melihat generasi Bissu lestari, dan tidak punah.

Konon menurut sejarah awal Pabissu ini berasal dari Kabupaten Bone yang hijrah dan menetap di Kabupaten Pangkep, ketika itu Raja Bone La Tenrisessu meninggalkan Bone dan terdampar di Kabupaten Pangkep, 100 KM dari Kota Makassar dan membawa asisten/sekretarisnya yang berjenis Bissu. Bissu ini diperankan oleh laki-laki yang berperilaku perempuan (calabai, bencong) yang berperan mengatur semua jadwal, perlengkapan baju, kosmetik dan ritual mistik sang raja/datu.

Sebuah adegan Tari Bissu yang cukup membuat jantung berdegub kencang ketika sebilah keris ditusukkan ke lehernya namun tidak menyebabkan luka sedikitpun.
Sebuah adegan Tari Bissu yang membuat jantung berdegub kencang ketika sebilah keris ditusukkan ke lehernya namun tidak menyebabkan luka sedikitpun.

Pabissu juga dibahas dalam bagian Sureq La Galigo, sebuah karya tulis sastra yang ditulis di daun lontar, berusia ratusan tahun dan terpanjang di dunia, kini bisa dilacak dan dibaca di ruang Perpustakaan Negara Kota Laiden, Belanda. Peran Pabissu sebagai penari yang memberikan hiburan raja dan rakyat dimulai dengan prosesi pembacaan mantra mistik dan hanya mampu diperankan oleh orang-orang tertentu (calabai) yang sebelumnya telah melewati proses Ipaota (bait) dan semedi minimal sehari-semalam.

“Saya telah dipaota sehari semalam oleh guru saya yang sudah meninggal bernama Uwwa Made (Muhammad) tahun 1986. Dimulai  mandi kembang, kemudian diajarin dan dituntun membaca dan menghafal kalimat-kalimat mantra dialog yang merupakan bahasa komunikasi dengan Dewata (ipasissengnga lao DewataE/Tuhan).

Pola hidup dan pantangan para Bissu adalah tidak boleh kawin, seperti kisah Julaeha, hidup sendirian. Setelah saya dinilai oleh guru saya sudah bisa berkomunikasi dengan Dewata (Tuhan). Ketika itu pun saya sudah sah disebut Bissu. Saya ini berprofesi sehari-hari sebagai indo/pajakka botting, tukang rias pengantin, kisah Julaeha. Jika ada undangan menari dan hiburan, saya dan kawan-kawan saling ketemu dan memenuhi undangan tersebut, jika harus keluar kota, provinsi atau luar negeri, saya dan kawan-kawan dituntun dan didampingi oleh staf Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep.

Bissu yang kini masih hidup dan diakui oleh kalangan Pabissu Kabupaten Pangkep lanjut pengakuan Julaeha adalah: Julaeha yang paling senior, menyusul Sompo; Wa Matang; Sale, Inani. Dewi, dan Muharram. Muharram inilah yang paling muda, 25 tahun. Prosesi lahir dan bergabungnya Bissu baru di Pangkep bagi Julaeha, tergantung pammasena/takdir Tuhan. Corak pakaian khas ketika menari/menghibur para Pabissu Arajang Sageri Pangkep itu: hijau, merah dan kuning emas. Keris/tappi yang dipakai dalam menghibur orang umum adalah milik sendiri. Pengalaman ketika menari, Pabissu pernah gagal di Pare-Pare, salah satu anggota grup tarinya mengalami pendarahan.

Dalam sejarah Pabissuan, di Sulawesi Bissu dikenal dari tiga Kabupaten: Bone disebut Bissu Lolosu; di Soppeng disebut Paduppa dan Pangkep disebut Bissu Dewata. Mereka ini dipandang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Dewata (Tuhan) melalui bahasa khusus. Para Bissu itu berprofesi sebagai paggalung (petani), sanro (dukun), paranormal. Tapi umumya adalah Pajakka Botting atau perias pengantin.

Profesi sebagai penghibur dengan Tarian Pabissu ini lah yang unik dan perlu dilestarikan dan diperkenalkan ke dunia luar. Seperti yang telah dilakukan oleh KEBUGIS dan mendapat apresiasi oleh orang banyak, seribuan penonton memenuhi Balaiurang Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI. Pesona Pabissu mendapat tepuk tangan bertubi-tubi dan decak kagum penonton, terutama tamu-tamu perwakilan dari Duta Besar negara-negara sahabat, misalnya Mr Rohit Babbar, Sekretaris Atase Kebudayaan India yang berharap bisa kerja sama kolosal dengan KEBUGIS untuk mementaskan seni tari ke event internasional yang lebih besar, termasuk rencana mengundang pentas Tari Pabissu di Kota Bollywood India. Jika ini terwujud, doa Pabissu untuk lestari dan dikenal dunia luar didengar Tuhan Yang Maha Kuasa. (SM)

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password