Dialog Budaya Bugis

Pementasan Tari Paddupa pada pelantikan pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Kaltim (30/4/2016) mengawali rangkaian seluruh kegiatan. (foto:LVL)

SUKU Bugis terkenal sebagai manusia pelaut ulung dan petani ulet. Sejak dahulu kala sudah diakui bisa menyeberangi dan mendiami berbagai pulau dan negara. Jejak manusia Bugis yang telah merantau (sompe’) ke berbagai negara telah dicatat oleh berbagai penelitian dan kenyataan sosial.

Disebutkan bahwa manusia Bugis sangat mudah ditemui dan dikenali karena mereka masih mempertahankan identitas aslinya seperti bahasa dan aksen Bugisnya dan memang ditopang oleh alfabetnya (ka ga nga nka’ dst). Praktek tradisi adat-istiadatnya secara turun-temurun masih terjaga. Walau sebagian sudah berasimilasi dan bercampur-baur dengan budaya suku atau bangsa lain.

 Manusia Bugis sejak dulu telah mempraktekkan sistem pemerintahan yang demokratis dan hidup bergotong royong, humanis, memelihara budaya dan seni secara turun-temurun, terkenal pekerja keras dan religius. Suku Bugis tidak mengenal sejarah ahistori dan perang antar-suku.

Di antara sedikit nama-nama putra Bugis yang tercatat dalam sejarah sebagai perantau yang sukses. Misalnya Syech Yusuf yang dikenal sebagai panrita, ulama tersohor dan pemilik dua gelar pahlawan: Afrika Selatan dan Indonesia yang melancong hingga Afrika Selatan. Jenderal M Jusuf pelaku sejarah Supersemar, peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto, sang pemberani. Baharuddin Jusuf Habibie yang terkenal ber-IQ tertinggi di Indonesia, pencipta dan pemilik hak cipta baling-baling pesawat terbang, Presiden Ketiga RI dan H Muhammad Jusuf Kalla, saudagar kaya raya yang kini kembali dipercaya sebagai Wakil Presiden RI.

Jenis kebudayaan manusia Bugis, dalam sejarah dan masih terjaga sampai hari ini misalnya tradisi turun ke sawah tanam dan panen padi;  tradisi meminang dan menikahkan anak gadis yang disebut madduta, tangke, mappasikarawa, mapparola, mammanu-manu, maccera wettang, maccera anak (aqiqah), mappanre temme’ (massuna,khitanan) sampai upacara kematian dan tradisi naik haji dan mabbarazanji. 

 Orang Bugis juga terus memelihara tradisi makanan dan minuman atau kulinernya, seperti: barongko, katiri sala, jompo-jompo, bandang lojo, buroncong, roti berre, sanggara balanda, sikaaporo, bingka, cucuru tenne, dll. Budaya fashion juga masih terjaga seperti lipa sabbe (sarung sutra), songkok pamiring dan baju bodo yang berwarna-warni.

Para penari Paddupa dari gadis-gadis belia dengan balutan pakaian daerah khas Sulawesi Selatan. (foto:LVL)
Para penari Paddupa dari gadis-gadis belia dengan balutan pakaian daerah khas Sulawesi Selatan. (foto:LVL)

Tradisi-tradisi manusia Bugis yang dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa seni seperti tari Paddupa (welcome dancing), tari empat etnis yang melambangkan empat jenis suku berbeda yang hidup harmoni, tari Marraga adalah seni mengocek bola takraw berjam-jam yang tidak pernah jatuh ke tanah. Tari Pakkacaping melambangkan seni hiburan rakyat, memakai alat Kecapi untuk berkisah heroik dan nostalgia cinta kasih muda-mudi. Tari Bissu adalah menggambarkan prosesi adat merawat benda-benda sakral seperti pusaka Keris dan bersahabat dengan api yang bisa dijadikan alat pelindung diri, anti-luka, anti-api,  kebal tubuh dan seterusnya.

Karena itu, apapun profesi kita, terutama pejabat Pemda Provinsi dan Daerah dan Dinas Pariwisata, sebaiknya mengambil peran untuk menjaga dan melestarikan sekaligus memperkenalkan berbagai jenis seni dan budaya Bugis, lewat pertunjukan di mana pun kita berada.

Panitia Bugis International Night (BIN) yang digagas dan dibentuk oleh  Keluarga Bugis Sidenreng Rappang, bekerja sama negara-negara sahabat menjalin kerja sama budaya akan mempersembahkan berbagai seni budaya Bugis seperti tari Padduppa, Marraga, Empat Etnis, Bissu. Dilengkapi dengan tari Flamengo dari Spanyol, tari dan lagu India, lagu dan Barongsai dari China. Selain tari seni-budaya, Panitia juga mempersembahkan kuliner bekerja sama restoran makanan khas Pakistan dari Keluarga Haji Malik di Jln Radio Dalam dan Kedutaan Malaysia. Pagelaran budaya ini adalah salah satu rangkaian menyambut Ulang Tahun Pertama PB KEBUGIS.

Orang-orang Bugis yang selalu bangga, mencintai dan senang menonton pertunjukan seni budayanya dan negara-negara sahabat punya kesempatan emas untuk datang ke Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Jln Merdeka Barat No 17 Jakarta Pusat menyaksikan pagelaran BIN.

Untuk menyempurnakan pertunjukan seni budaya ini, Panitia telah melayangkan surat permohonan kehadiran kepada HM Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI dan Dr Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI. Panitia berharap melalui pertunjukan ini tercipta dialog budaya Bugis dengan negara-negara sahabat. Terbayang betapa indahnya jika seni dan budaya khas Bugis ini dapat dipentaskan di panggung-panggung internasional.

Panitia dari KEBUGIS telah menyiapkan undangan gratis kepada calon pengunjung, termasuk ke kedutaan negara-negara sahabat di Indonesia. Silakan hubungi Panitia di: pb.kebugis@gmail.com atau telepon di 081295441012 atau datang ke alamat PB KEBUGIS, Gedung Hanurata Graha Lt 2 Jln Kebon Sirih Kav 67-69 Jakarta Pusat. Selamat ulang tahun pertama PB KEBUGIS. Jayalah KEBUGIS. Panji-panjimu akan dikibarkan dan disebarkan di seluruh Nusantara. (M.Saleh Mude)

 

 

3 Comments

  • A Ar Daeng Rigowa Reply

    May 5, 2016 at 21:57

    Budaya, budayamu milikmu budayaku milikku di sul sel ada empat etnis Makassar Mandar Toraja dan Bugis masing masing mempunyai budaya sendiri sendiri jaga kebersamaan jangan ada ego sentries.

     
  • Daeng tumphu Reply

    May 6, 2016 at 09:24

    Terlalu dibuginisasi…
    Judulnya bugis isinya menceritkan budaya suku makassar

     
  • IDILFITRI ATJO Reply

    May 21, 2017 at 11:25

    SEBELUM SULAWESI BARAT BERPISAH , SULAWESI SELATAN TERDIRI DARI EMPAT SUKU BESAR, YAKNI,BUGIS,MAKASSAR,MANDAR DAN TORAJA. SECARA HISTORIS TERDIRI DARI EMPAT KERAJAAN BESAR, YAKNI KERAJAAN GOA,KERAJAAN BONE, DAN KERAJAAN LUWU. MASING-MASING KERAJAAN ADA NAMA PANGGILAN RAJANYA. YAKNI SOMBAE RI GOA, ARUNGNGE RI BONE, PAYUNGNGE RI LUWU DAN MARA’DIA DI MANDAR.

     

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password