Kisah Sebulu Tersaji di Lapangan Becek, Tari Massal Pembukaan MTQ Lancar

Dua tokoh pemuda yang berasal dari Menamang dan Kedang Ipil yaitu Ma`Tabok dan Ma` Bonet sebagai cikal bakal berdirinya Kampung Sebulu. (foto:HA)

DETAKKaltim.Com, TENGGARONG : Meski lapangan becek dan berlumpur akibat diguyur hujan lebat, tari massal pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten Kutai Kartanegra (Kukar), Kalimantan Timur ke 38 di Kecamatan Sebulu, berlangsung lancar.

Sebanyak 127 orang terlibat dalam tari massal pada acara pembukaan  MTQ Senin (28/3/2016) malam, di arena utama MTQ Lapangan Kuning Sebulu Ilir. Mereka terdiri dari pelajar SMP, SMA dan masyarakat Sebulu.

Tarian
Pelajar Sebulu membawakan tari pembukaan MTQ dengan riang. (foto:HA)

Tampak penari massal tetap semangat menyelesaikan tari berdurasi 22 menit itu, meski dalam keadaan kaki berlumpur.

“Ya, tidak masalah, yang penting saya bisa memberikan yang terbaik dalam meramaikan pembukaan MTQ di kecamatan kami,” ujar Fita Mardiani, siswi SMP Negeri 1 Sebulu yang menjadi salah satu penari massal tersebut.

Sementara, H Eramsyah Sadi, koreografer tari massal pembukaan MTQ Sebulu dari Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kukar mengatakan, tari massal dengan judul “Syukur Atas Rahmat dan Nikmat Ilahi” itu diangkat berdasarkan sejarah berdirinya Kecamatan Sebulu, yang kisahnya didapatkan dari para tetua dan tokoh masyarakat setempat serta para keturunan pelaku sejarah.

Diceritakan Eramsyah, tari tersebut menggambarkan dua tokoh pemuda yang berasal dari Menamang (Muara Kaman) dan Kedang Ipil (Kota Bangun) yaitu Ma`Tabok dan Ma` Bonet, mereka memenuhi undangan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada waktu itu untuk menghadiri pesata adat Erau di Tenggarong yang dilaksanakan 40 hari 40 malam.

Dalam perjalanan pulang setelah mengikuti Erau, Mak Tabok dan Mak Bonet kehabisan perbekalan di daerah Entapi. Lalu mereka berdua menyempatkan bercocok tanam di Entapi untuk perbekalan pulang ke hulu.

“Akhirnya karena pertemanan akrab dua pemuda ini saat bercocok tanam, maka mereka menyebut wilayah itu sebagi Sebulu yang bermakna senasib sepenanggungan, sehingga hingga kini Entapi dikenal dengan nama Sebulu,” ujar Eramsyah.

Asal-usul sebulu itulah yang mereka angkat dalam tari massal dengan dasar gerakan Jepen Kutai yang diiringi musik Tingkilan.

semangat-(2)
Meski berlumpur tampak penari tetap semangat. (foto:HA)

Eramsyah mengatakan, dalam tari berdurasi 22 menit itu, para penarinya mengenakan properti dan pakaian khas Kutai di antaranya Tengkolok (penutup kepala dari kain).

Guna memperisapkan tari massal itu, menurut Eramsyah para penari bahkan latihan hingga tiga kali dalam sehari, yaitu Pagi, sore dan malam sejak awal Maret ini.

Sedangkan Bupati Kukar Rita Widyasari saat membuka MTQ, tetap mengapresiasi tuan rumah yang telah berusaha mempersiapkan acara dengan baik.

“Saya yakin panitia sudah mempersiapkan acara ini dengan baik, namun karena cuaca kita semua bisa memahaminya,” ujar Rita.

Rita juga mengapresiasi masyarakat yang ikut terlibat dalam mensukseskan MTQ.  Menjelang pelaksanaan MTQ, masyarakat Sebulu rutin melaksanakan gerakan pungut sampah, mempercantik lingkungan dengan memasang umbul-umbul dan membuat gapura di tiap batas RT. (HA)

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password