Bantu Petani Melalui Secangkir Kopi

Kegiatan Fun Brewing sebagai salah satu sarana memperkenalkan kopi kepada masyarakat. (cuk)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Kopi bagi sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi budaya yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Seiring waktu, para penikmatnya pun terus berkembang sehingga minuman pekat ini seolah menjadi gaya hidup. Kopi tidak lagi didominasi warung-warung kopi, namun merambah ke tempat-tempat mewah.

Tapi sadarkah kita, bahwa kebiasaan ngopi di masyarakat Indonesia seperti tidak mendukung para petaninya untuk berkembang. Hal ini disebabkan pengetahuan warga tentang kopi sangat terbatas. Dari dulu, masyarakat kita terbiasa dijejali dengan kopi-kopi instan dengan kualitas ala kadarnya. Sementara biji kopi berkualitas asal Nusantara, lebih banyak diserap negara lain. Padahal negeri ini termasuk dalam tiga besar penghasil kopi terbesar di dunia.

Kondisi ini akhirnya mendorong pegiat kopi , untuk mengeksplor dan mengenalkan potensi bangsa yang kerap terlupakan ini. Ditandai dengan mulai bermunculannya kedai-kedai atau coffee shop yang mengedepankan kopi asli Indonesia, dengan beragam metode penyajian. Tak hanya berorientasi pada bisnis semata, tak jarang para pelakunya turun langsung ke petani-petani kopi untuk melakukan edukasi bagaimana menghasilkan biji berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.

“Kopi kita ini kaya, dari Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Papua, itu memiliki karakter berbeda, dan yang berkualitas justru lebih banyak diekspor untuk dinikmati orang luar,” ujar Dwi Setyono, Ketua Bubuhan Kopi Samarinda (BKS) di sela kegiatan Fun Brewing, Kamis (17/3/2016), di salah satu Kedai Kopi di bilangan Air Hitam.

Dijelaskan oleh Dwi, kegiatan Fun Brewing ini adalah agenda rutin BKS untuk memperkenalkan kopi kepada masyarakat. Harapannya, akan lebih banyak masyarakat yang lebih memahami kopi, dengan begitu akan melahirkan penikmat kopi yang kritis. Dalam artian, ketika mereka sudah mengetahui seperti apa kopi yang berkualitas, itu akan mempengaruhi sektor hilirnya.

“Ya, dengan semakin banyak penikmat yang kritis, petani juga akan lebih memperhatikan proses penanaman hingga pasca panennya. Dengan begitu, harga kopi yang dipasarkan akan meningkat dan mempengaruhi kesejahteraan para petani kita,” tukas Dwi lagi.

Untuk Samarinda sendiri, Dwi dan kawan-kawan yang tergabung dalam BKS, terus aktif melakukan edukasi tentang kopi kepada masyarakat. Salah satunya melalui Fun Brewing dan kegiatan Coffee Camp awal Maret lalu. Kemudian untuk ke depannya, BKS berencana menggelar kompetisi V60 (baca : V-Sixty) Battle, yang dijadwalkan berlangsung April mendatang.

“V60 ini adalah salah satu metode seduh manual yang sering digunakan, baik oleh barista di coffeshop atau penyeduh rumahan. Jadi dengan adanya kompetisi ini, kami berharap mampu menarik minat masyarakat untuk tahu, bahwa penyajian kopi itu banyak cara yang bisa digunakan, tutup Dwi lagi. (cuk)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password