Jasa dan Peran Wali Songo yang Diabadikan Sejarah

Wali Songo

DETAKKaltim.Com, : Geoffrey C Gunn dalam jurnalnya yang berjudul “History Without Borders: The Making of an Asian World Region, 1000-1800” menyebutkan, kesaksian dari warga Portugis dan wisatawan Italia tentang penduduk asli Jawa menandakan perkembangan Islam di Jawa pada era awal Wali Songo.

Berikut ini, daftar nama Wali Songo, seperti dikutip dari Ensiklopedi Islam:

Sunan Gresik

Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi. Hal ini karena ia diduga berasal dari wilayah Magribi (Afrika Utara). Namun, hingga kini, tidak diketahui secara pasti sejarah tentang tempat dan tahun kelahirannya.

Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad ke-14. Sunan Gresik diyakini sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Upaya menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat pada masa itu menjadi objek dakwah Sunan Gresik. Cita-cita dan perjuangannya menyebarkan Islam di Jawa kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Ampel.

Sunan Ampel

Nama aslinya Raden Rahmat, (Campa, Aceh, 1401—Tuban, Jawa Timur, 1481) . Ia adalah putra Sunan Gresik dari istrinya yang bernama Dewi Candrawulan. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa.

Makam Sunan Ampel
Makam Sunan Ampel (Republika/Suprayogi)

Ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta dekat Surabaya. Sehingga, ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur.

Di pesantren inilah, Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga dai yang akan disebar ke seluruh Jawa. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu kota di Bintoro, Demak.

Sunan Bonang

Ia adalah pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan merupakan saudara sepupu Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Ampel Denta, Surabaya 1465—Tuban 1525).

pintu-masuk-makam-sunan-bonang-di-tuban-jawa-timur-_140508131222-186
Pintu masuk makam Sunan Bonang. (Blogspot.com)

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Bonang dan para wali lainnya selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah.

 

Sunan Giri

Masjid Sunan Giri
Masjid Sunan Giri (Imam Budi Utomo/Republika)

Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata, dan kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih lahir di Blambangan, pertengahan abad ke-15 sampai awal abad ke-16. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan.

Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama, misalnya, jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya.

 

Sunan Drajat

Nama aslinya Raden Qasim atau Syarifuddin, tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial.

Ia terkenal mempunyai jiwa sosial, dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa asli. Sunan Kalijaga bernama asli Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya.

Sunan Kalijaga memiliki jasa dalam memperkenalkan media dakwah melalui wayang dan gamelan. Sunan Kalijaga juga sangat berjasa dalam perkembangan wayang purwa atau wayang kulit yang bercorak Islami seperti sekarang ini.

Ia mengarang aneka cerita wayang yang bernapaskan Islam, terutama mengenai etika. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat, dan kesusastraan.

Sunan Kudus

Sunan Kudus
Aktivitas peziarah di makam Sunan Kudus. (Republika.Bowo Pribadi)

Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadis, tafsir, serta logika.

Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Kudus juga mendirikan masjid di daerah Loran pada 1549. Masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (masjid menara kudus).

 

Sunan Muria

Salah seorang Wali Songo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan Pulau Jawa. Ia adalah putra Sunan kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said, sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto.

Cara yang ditempuh Sunan Muria dalam menyiarkan Islam adalah dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa. Ia menciptakan tembang dakwah “Sinom” dan “Kinanti”.

 

Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Gunung Jati.
Makam Sunan Gunung Jati.(Republika/Agung Supriyanto/ca)

Salah seorang dari Wali Songo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, terutama di daerah Jawa Barat. Ia juga pendiri Kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. (Sumber : Republika.co.id)

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password